#30HariMenulisSuratCinta #day8 - Kepada Bapak

February 06, 2015

Kepadamu Bapak,

yang bersenang-senang saat membuatku bersama Ibu. Yang berjuang demi aku dan keluargamu. Aku, Ibu, ketiga adikku, akan tak mengenal kasih sayang seorang Bapak, kalau kau tak bertanggung jawab. Tapi, ternyata Tuhan Maha Baik, karena engkau dijadikannya sebagai sosok yang bertanggung jawab, walau ‘sedikit’ kasar dan galak. Tapi, begitulah sosokmu dimataku. Namun, ada hal lain yang tidak diketahui oleh Ibu dan ketiga adikku, tentang kita Pak.
Suatu ketika, kau pulang bekerja, membawa salah satu buah yang mahal. Buah yang kau dapat dari pemberian Bosmu. Buah yang bahkan belum tentu bisa kita sekeluarga makan setahun atau dua tahun sekali. Iya, saat itu kita masih benar-benar terseok-seok ya Pak, kondisi keuangan Bapak. Aku mengerti sekali, karena aku melihatnya Pak. Dan ketika kau membawa buah Duren yang bentuknya kecil tapi aromanya membawa diriku seolah berada di surga, membuatku tersenyum menyambutmu.
Almarhumah Emak selalu mengajariku dan mendidikku, untuk membawakan segelas air putih setiap kali Bapak pulang kantor. Dan itulah yang aku lakukan ketika kau pulang membawa Durian kecil dengan wangi yang menari-nari hingga hidung ke perutku, sambil memberikan segelas air putih untukmu, Pak. Saat itu, Ibu dan Adik tidak ada di rumah, mereka sedang pergi entah kemana dan memang selalu saja tugasku untuk menjaga rumah. Dan, tidak disangka kau berkata padaku.
“Ini Duriannya kita makan berdua ya, tapi jangan bilang Ibu dan adik kamu. Nanti mereka iri. Bapak udah ngiler dari pulang kantor tadi. Sampe nggak konsen nyetir motor.”

Seru? Sangat seru! Kami berdua menyantap buah Durian berdua saja! Padahal kalau ketahuan Ibu pasti kami berdua akan mendengarkan nyanyian yang tak ada usainya. Dan itulah alasan Bapak mengajakku berkompromi untuk tutup mulut usai melahap habis buah Durian yang lezatnya tiada tara itu. Buah yang seperti barang mahal bagi kami sekeluarga saat itu. Dan alasan kau Pak, karena tidak tega dengan pengorbananku selama ini, mengalah dan tidak menunjukkan 'amarah’.
Apalagi yang membuatku terkenang? Ada, banyak. Tapi izinkan aku juga berkisah tentang air mata yang berlinang sepanjang pulang sekolah ketika aku masih duduk di kelas 1 SMA. Saat itu aku masuk siang, dan memang setiap kali pulang bekerja, kau akan menjemputku. Aku bisa tahu kau sudah datang atau belum dari suaramu yang mampir melalui jendela ruang kelasku, yang tepat berada di bawah tempat kau menunggu. Kebetulan kelasku berada di lantai dua, dan itu sering membuatku tak sabar ingin segera pulang.
Waktu itu, hujan deras sekali. Bahkan keadaan di kelas sangat gelap, dengan lampu penerangan yang seadanya. Ah, tega sekali sekolah hingga membiarkan mata kami menyipit demi bisa fokus pada tulisan di papan tulis. Dan suaramu, Pak. Tidak bisa kudengar dari dalam kelas. Tapi, temanku yang duduk di pinggir kelas, mengatakan bahwa kau sudah datang menunggu, sendiri. Di bawah hujan dengan jas hujan plastik seadanya yang kau buat.
Jujur, saat itu kondisi kami memang tidak beruntung seperti yang lain. Bahkan jas hujan, payung atau hal kecil lainnya yang dimiliki teman-teman, aku tak punya. Tak mengapa, hal ini tidak mempersulitku karena aku senang hujan-hujanan. Kemudian, ketika bel tanda pulang berbunyi, aku berlari menujumu, Pak. Indah bukan ? Berlari di tengah hujan untuk menghampiri seseorang yang sangat disayangi ?
Tapi ini bukan romantisme tentang sepasang kekasih, ini romantisme dan perjuangan dari seorang Bapak untuk anaknya. Iya, kau berikan jas hujan satu-satunya kepadaku agar aku tidak kehujanan. Sementara kau memilih untuk membiarkan tubuhmu kuyup diantara derasnya hujan.
Sepanjang jalan, aku tak dapat berkata, karena aku menangis, sambil tertahan. Aku tahu, saat itu kau sedang tidak enak badan, tapi perjuanganmu agar anakmu bisa sekolah, agar keluargamu tetap bisa makan. Bahkan tak mengizinkan anakmu ini, yang nakal, yang sering membantah, yang sering cemberut saat kau suruh, tidak kehujanan.
Ah, Bapak. Tuhan menjadikanku sebagai anak yang beruntung sekali !
Tak dapat aku bayangkan, karena setelahnya justru Ibu memarahimu karena bajumu basah kuyup. Karena akhirnya malam hari tubuhmu panas, dan keesokan paginya kau masih harus bekerja. 
Apakah terlalu cengeng jika hari itu, aku kembali menangis dan memohon pada Tuhan agar engkau sehat?
Aku menangis bukan sekali. Bukan hanya karena aku kecewa, tapi karena aku tak tahu, bagaimana bisa aku membayar seluruh kebaikanmu. Bagaimana aku bisa membuatmu senang, setelah perjuanganmu untuk Ibu dan adik-adikku selama ini?
Itulah Pak, walaupun aku sebal dan kesal melihatmu membicarakan BATU AKIK bersama teman-temanmu, atau melihatmu nongkrong seharian di tempat tukang Batu, hanya pulang untuk solat dan mandi, aku tidak marah Pak. Meski akhirnya, aku sendiri paham, bahwasannya aku hanya ingin membuatmu bahagia dan senang. Walaupun terkadang aku sering menggerutu dan malas mengantarmu dan membiarkanmu pergi sendiri ke tukang batu. Maafkanlah aku Pak, anakmu yang masih saja belum bisa menerima kebahagiaanmu, padahal engkau senang melihatku senang.
Pak, sungguh, tak tahu lagi aku harus membalas perjuanganmu selama ini dengan apa. Tapi doakanlah aku agar cita-citaku tercapai, karena aku ingin membiayaimu, bersama dengan Ibu untuk bisa pergi ke baitullah. Itu doa dan harapanku, hanya itu yang masih ada dalam benakku, tidak ada yang lain.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih