#30HariMenulisSuratCinta #day6 - Kepada Almarhumah Emak

Kepada Almarhumah Emak,

Semoga surat ini sampai padamu, Mak. Dan semoga saat surat ini datang, kau tengah tertidur, bukan tengah tersiksa oleh siksaan kubur karena aku cucumu, sering lalai mengirimimu doa. Sungguh, aku tak tahan membayangkan siksaan menderamu, Mak.
Semoga Tuhan menyayangimu Mak, karena engkau adalah Nenek terbaik yang pernah aku miliki. Nenek yang tidak lagi dapat aku sapa dan aku ciumi tangannya setiap bertemu. Nenek yang tak lagi bisa memberiku wejangan untuk persiapan pada sebuah kehidupan.
Mak, kau tahu, bahwa aku tahu kalau kau juga pasti mengetahui apa yang terjadi pada anak dan cucumu. Mungkin malaikat membisikimu, atau Tuhan memberitahu padamu. Atau justru kau sedang tertidur hingga waktunya hari penghakiman tiba.

Mak, setiap kali aku memandang batu nisanmu, tanggal yang tertulis di sana, saat itu aku selalu ingin memutar waktu. Ingin memiliki sedikit saja kesempatan untuk berada di sampingmu ketika kau menutup mata, aku ingin membisikkan kata maaf dan juga terima kasihku.
Mak, sayang sekali, saat itu bahkan kami tidak dapat pergi ke rumah sakit di Bandung, tempat engkau dirawat. Mak, sedih rasanya cucumu ini Mak, tak dapat mengiringi kepergianmu untuk terakhir kalinya. Dan baru bisa bertemu ketika jiwamu tak lagi berada di jasadmu. Itupun, engkau dikelilingi adik-adik serta anak-anakmu Mak. Tak ada ruang untukku bahkan untuk memeluk dan menciumimu. Aku hanya berdiri di barisan paling belakang. Hanya terdiam saja, tak mampu berbuat apa-apa.
Mak, kalau saja ingatanmu masih ada, pastinya aku ingin kembali mengingat bersamamu, saat engkau mencariku siang itu, dimana aku tengah berada di atas pohon jambu. Kemudian kau berteriak :
“Neng, turun ! Makan gih sono sama baba lu!”
Ah, Mak. Rasanya baru kemarin aku mendengar seruanmu. Atau guncangan halus dari tanganmu yang membangunkanku untuk ikut solat subuh berjamaah bersamamu. Atau ketika aku dengan setia menunggumu pulang menjelang siang, dari tempat pengajian, di atas pohon jambu, tempat favoritku.
Mak, bahkan kini rumah di Duren Jaya, di Kampung Cerewed sudah terjual. Tak lagi bisa aku meniti jejak kenangan tentang masa kecilku lagi. Mak, setiap melewati rumah itu, aku selalu terkenang. Selalu saja terkenang pada masa kecilku, kala engkau sering memintaku menemanimu di dapur. Memasak nasi dengan priuk, mengulak sambal bahkan mencuci baju-pun aku temani.
Mak, semoga saja aku tak lagi lupa berdoa untukmu, untuk Nenekku tersayang. Semoga saja Tuhan tak menghukummu di alam kubur. Semoga kuburmu lapang, Mak. Dan semoga kasih sayangmu, pengorbananmu, membuat Tuhan menyayangimu. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosamu Mak.
Mak, aku cucumu yang senantiasa ingin selalu berada di dekatmu, semoga Tuhan persatukan kita di surga yang sama ya, Mak.

Comments

Instagram




domain murah