#30HariMenulisSuratCinta #day4 - Kepada Ibu

Kepada Ibu,

rasanya baru kemarin aku menikmati belaian tanganmu di kepalaku. Juga baru kemarin aku mendengar suaramu berteriak memanggil namaku, kala tengah asyik duduk di batang pohon pete cina yang aku panjati setiap hari. 
Atau baru kemarin, aku mengetahui dirimu mengintip ke dalam kamar melalui jendelaku, ketika ingin tahu apa yang sedang aku lakukan siang itu, saat liburan sekolah tiba. Walaupun hanya berteman buku dan buku, tapi curigamu, hanya dirimu yang memiliki.
Ada banyak hal yang tak dapat aku katakan, bisikkan, juga ungkapkan. Terkadang memang aku lebih memilih diam dan menyimpan semuanya. Dari rasa sakit, kesepian hingga tak memiliki teman. Atau karena teman yang setelah aku jadikan tempat curhat kemudian dengan semena-mena membeberkannya di khalayak umum.
Sebenarnya sering aku ingin menangis dan mengadu padamu, Bu. Tapi aku tidak tega. Sebagai anak pertama yang mengetahui bagaimana resahmu, gelisahmu, rasa tak sanggup yang sering menghantuimu. Itu sebuah kenyataan yang kemudian membuatku menyimpan semuanya. Bukan salahmu, Bu. Toh, engkau adalah manusia yang kuat. Yang bahkan sanggup mengatasi segalanya. Tidak ada yang dapat menyaingi dirimu, terlebih sosok ibu dari teman-temanku. Tidak ada yang dapat menyaingi. Meski ibu mereka terbuat dari emas sekalipun.

Jadi, jangan bersedih, Bu. Biarlah ini adalah bagianku. Menghadapi orang-orang serta manusia-manusia yang beragam bentuknya. Menyimpannya semua dan menumpahkan segalanya hanya pada Tuhan. Bu, tahukah engkau Bu, aku ini juga tidak sempurna. Tapi engkau membuatku sempurna Bu, dengan kasihmu, pastinya.
Ah, Bu. Yang paling aku rindu itu banyak, tapi saat ini aku rindu dengan masakanmu. Sayur asem dengan ikan peda dan juga sambel. Terlebih semenjak engkau sakit Bu, aku tidak ingin merepotkanmu. Mencoba menyelesaikan sendiri, berusaha mencari bantuan dari orang lain yang kemudian justru terjebak. Karena orang - orang itu, bukannya membantu, tapi hanya ingin membeberkan rahasiaku, Bu.
Begitulah Bu, manusia. Apalagi terkadang sikap kekanakanmu, sering muncul, membuatku bertambah bingung harus seperti apa. Tapi, Bu. Benar katamu, aku memang terlalu mandiri, benar juga mengapa engkau sering menceritakan pada tetangga bahwa aku jarang menyusahkanmu. Bagaimana mungkin aku tega Bu? Melihat engkau lelah mengurus ketiga adik-adikku saja aku tidak tega, ditambah mengurus Bapak. Jadilah aku memposisikan diriku sebagai orang yang bisa mengurusmu, dijadikan tempatmu untuk marah dan bersedih.
Walaupun pada akhirnya aku juga bingung ingin mencurahkan hati pada siapa, namun justru karena semua ini, aku lebih sering bercerita pada Tuhan. Terkadang dalam hati, terkadang berbisik hingga disangka orang lain aku tengah menyanyi pelan. Terkadang juga dalam pikiranku. Biarlah aku menikmati sendiriku Bu, menyelesaikan semua sendiri. Hingga saatnya nanti, aku ingin menjadi setegar engkau Bu. 
Sudah ya, Bu. Terima kasih tadi sudah mengantarkan sesuatu untukku, sesuatu yang terlupa yang membuatku sadar, bahwa sesuatu ini penting untuk pekerjaanku.
Ah, Ibu, sungguh aku lebih beruntung dari siapapun!

Comments

Instagram




domain murah