#30HariMenulisSuratCinta Day 11 - Kepada Gigi

Kepada Gigi,

yang rasanya menyakitkan, hingga gusiku bengkak, juga kepalaku serasa ingin pecah. Aku mencintaimu, kebersamaan kita sudah terbilang cukup lama. Jadi, tidak mungkin aku tidak mencintaimu, sejauh ini, cintaku lebih besar, dan dalam sebanyak makanan yang kau bantu untuk dicacah menjadi partikel lebih kecil.
Tapi, bukankah disaat kita mencintai, kita juga harus belajar untuk melepaskan?
Beginilah keadaannya, aku yang berusaha melepasmu. Kemudian rasa sakitmu yang sedih dengan perpisahan, hingga bisa kurasakan. Berdentam bagai palu godam memukulku, hingga menjadi serpihan.
Kepada Gigi,

yang masih bersemayam, yang harusnya sudah kulepaskan. Ini mungkin sedikit klasik, karena tidak mudah. Sangat tidak mudah melepasmu. Akan ada rasa sakit dan perih yang akan kurasakan ketika kita berpisah.
Karena, bukankah tidak ada perpisahan yang tidak menyakitkan dan tidak menyedihkan?
Aku rasa begitu. Sama seperti keadaan kita saat ini, yang tengah bimbang, ingin berpisah atau tetap seperti ini. Menjalani hubungan yang tetap menyakitkan dan memilukan, karena gusiku bengkak, duhai Gigi.
Terkadang aku ingin kau mengerti, Gi.
Dan kau juga ingin aku mengerti.
Kita, sama-sama meminta untuk saling mengerti. Tapi keadaan ini, membuatku serba salah, Gi. Tak lagi aku bisa makan dan tidur dengan nyenyak. Ini cinta yang begitu menyakitkan, Gi.
Kepada Gigi,
dan dokter Gigi yang ada di dunia. Bisakah kalian ciptakan perpisahan yang tak menyakitkan seperti saat kami masih bersama ini? Bisakah kalian ciptakan perpisahan yang dapat menjadikan aku dan Gigiku ini tak harus menyakiti orang ketiga, yaitu Gusi? Bisakah perpisahan ini cepat tanpa harus menghitung hari dan minggu?
Kepada Gigi,
aku lelah, Gi. Lepaskan aku, dan aku akan melepasmu. Kita belajar untuk saling melepaskan satu sama lain. Kita belajar untuk bergerak maju, kita belajar untuk berbahagia pada kenangan masa lalu.
Gi, 
Lepaskan aku.

Comments




domain murah