#Kamisan - Hujan


Kalau hujan bisa ngomong, bukan hanya bulan yang akan mengajak berbincang. Hujan akan bercerita banyak. Tentang ibu-ibu yang mengeluh cuciannya belum kering. Atau kasur yang tak bisa dijemur. Terkadang serentak keluhan sampai pada hujan, kala banjir membuat rumah-rumah mereka tak layak ditempati.

Hujan terkadang punya cerita, tentang dua manusia yang tengah berteduh bersama. Atau manusia lain yang berjibaku di tengah derasnya demi sampai di tempat tujuan tepat waktu.

Tapi, hujan selalu menyimpan satu cerita. Tentang anak yang membawa payung setiap hujan. Payung berwarna abu-abu, polos, hanya ada tulisan kecil yang menandakan payung tersebut pemberian dari partai Alimbu’bu yang terkenal.

Hujan tak mengenal namanya, hanya tahu kalau dia akan berteriak tak jelas menawarkan jasanya. Sangat tidak jelas. Bahkan ketika orang lain menanyakan tarif jasanya, dia hanya mengoceh tidak karuan. Ada yang memberikan lima ribu, ada juga yang sepuluh ribu. Tapi pernah ada seorang kakek tua yang tak memberinya uang, kakek tua kaya. Memang hidup ini aneh. Tapi anak itu tak memiliki porsi untuk marah. Itu lebih aneh.

Hujan senang ketika datang, karena hanya anak itu yang akan bermain-main ceria tanpa beban. Meski di rumah dia sering mendapat celaan, siksaan dan hinaan. Ibunya memanggilnya ‘si cacat’, bapaknya memanggilnya ‘si gila’ dan teman-temannya sering berbisik ‘si camen’.

Lagi-lagi hujan tak pernah lupa pada anak itu, yang saat ini sedang mengiring seorang lelaki yang meminjam payungnya sementara dia hujan-hujanan. Lampu merah sudah berubah kuning dan akan menjadi hijau, hujan lebat membuat jarak pandang hanya beberapa sentimeter. Tapi lelaki yang meminjam payung tetap menerobos jalan dan berlari.

Naas, anak periang penjaja jasa payung. Dia tiba-tiba tertabrak bus kota yang melintas. Matanya menatap ceria ke langit. Dan hujan kembali menumpahkan tetesannya. Memanggil sang anak, untuk bermain bersamanya.

Comments




domain murah