Tanpa Jejak

Aku ingin berbincang pada sebuah kenangan, tentang ingatan yang tak pernah lekang oleh waktu. Sosok yang dulu bersemayam cukup lama dalam pikiranku.
“Mungkin sudah waktunya kau melangkah jauh.” Perkataan yang pernah membuatku ingin menampar wajahnya, namun tak ayal aku selalu mengurungkan niatku.
Setiap kehidupan yang bertingkat dalam penjabaran usia. Aku berusaha memaknai setiap pertemuan kami yang bisa dikatakan tidak resmi, karena hanya aku dan dia serta Tuhan yang tahu. Mungkin jika rerumputan itu ditanyai, mereka tak akan pernah mengetahuinya.
Kami seperti dua jiwa yang bertemu dalam ruang dan waktu yang berbeda. Bukan, dia bukan berasal dari dunia lain seperti dunia paralel. Kami masih satu dunia tapi hanya, entahlah aku menyebut ini apa, tak menyatu secara nyata.
“Tapi aku tahu, kita selalu akan bertemu karena kita saling menguatkan satu sama lain. Itulah mengapa kau selalu menyeretku ikut pergi bersamamu,” keluhku kala musim tengah berganti dan angin tak lagi sepoi-sepoi bertiup.
Masa dimana aku menjadikan sebuah lagu seperti kenangan dan tak akan pernah bisa dihilangkan jejaknya. Bagai jejak manusia purba yang pasti akan tetap terlihat jejaknya meski sudah ribuan tahun terpendam.
Ini adalah kisah yang hanya aku, dia dan Tuhan yang tahu. Tak ada jejak antara kami, tapi masih terasa dalamnya rasa itu. Seperti kilatan makna yang tak berjejak tapi menyiratkan sesuatu yang mendalam. Itu adalah kami.
**Binatang Jalang, 6-1-14** 












You might also like

Personal Branding

Warunk Upnormal

Buku Untuk Indonesia

History of wall clock

Good Habbit

Comments

Instagram




domain murah