Story behind the song

I was the man who never lied
Never lied until today
Siapapun pasti menginginkan sebuah kejujuran, meski menyakitkan. Layaknya membuka topeng pada orang yang tepat, pasti kebahagiaan itu akan bersemayam pada orang yang dianggap tepat itu. Tapi bagaimana jika hingga saat ini justru aku bersemayam dengan orang yang belum pernah aku tahu siapa dia. Belum juga aku kenal secara spesifik, misalnya apa yang dia suka dan dia tak suka. Namun ini adalah sebuah keputusan, aku harus melangkah meski tampak seperti mengeja bayangan yang tak kasat mata. Jadi seperti apa dan bagaimana, hingga akhirnya aku hanya memikirkan aku dan aku.
Kejujuran itu layaknya buah simalakama, tak diungkap dia akan membuat orang tuaku mati, tapi jika diungkap aku yang mati.
Ada beberapa orang yang mengusung kejujuran bak berlian, sakit memang jika bersama dengannya. Tapi entah kenapa itu yang aku rindukan. Bersama orang yang jujur, kendati sering merasa tersinggung.
Jadi ketika aku berpikir bahwa ada bagian orang yang bahkan tak mengenal lagi siapa dirinya karena cerminannya, proyeksinya bagaikan pandangan yang tembus hingga sulit untuk dijamah. Semua layak misteri yang tak terungkap.
Mungkin suatu saat nanti, semua akan indah pada waktunya.
**Binatang Jalang**









You might also like

Personal Branding

Warunk Upnormal

Buku Untuk Indonesia

History of wall clock

Good Habbit

Comments

Instagram




domain murah