Menikmati Tenggelam

January 27, 2014



Ada berapa banyak usaha yang kau lakukan untuk berlari dari kesedihan dan keterpurukan? Jingga sadar dirinya adalah seorang muslimah yang memang ditakdirkan untuk menjalani Solat 5 waktu dan menjalani aktifitas lain yang berhubungan dengan agama dan spiritual. Tidak salah, namun kemudian Jingga merasa masih ada sesuatu yang membuatnya merasa ‘lemah’ dan tidak dapat berlari seperti biasanya.
Renang
Jingga memiliki ketakutan pada tenggelam, dan dia tidak dapat berenang. Tapi kenapa dihari Mingu yang cerah itu, bahkan ketika setelah tiga hari berturut-turut dia tidak dapat memejamkan matanya sama sekali, kemudian memilih untuk Berenang?
Jawabannya mudah. Semenjak awal 2013 dia memang memutuskan untuk melakukan sesuatu yang membuat dirinya ketakutan hingga ingin mati. Tapi ini dia lakukan bukan karena Jingga ingin bunuh diri. Bukan, tapi Jingga ingin memacu adrenalinnya, menghadapi ketakutannya yang kemudian akan membuatnya justru tersenyum.
Sama seperti saat ini, ketika dia berusaha untuk menjalankan kakinya mengikuti seorang katak, matanya yang terlindungi oleh kaca mata renang, membuatnya dapat melihat banyak hal. Salah satunya, bias mentari yang berpendar masuk ke dalam kolam.
Sangat Indah sekali, tidak ada kecantikan yang dapat membuatnya merasa ingin menangis, dan dia menangis didalam Kolam Renang. Mudah bukan? Tanpa perlu hujan seperti sinetron, dia bisa menangis hingga dadanya sesak. Dia butuh oksigen.
Berkali-kali Jingga berusaha untuk terus menggerakkan tubuhnya meluncur dari tepi yang satu ke tepi yang lain, jarak yang jauh jika dalam kondisi normal tidak akan pernah dia lakukan. Tapi, saat ketika otakmu terasa lumpuh dan tak bisa berpikir, saat itulah yang tepat untuk menghadapi ketakutan.
Ini yang Jingga lakukan, menikmati hening dan bias cahaya dalam kolam. Menepis keberadaan kaki, tubuh dan bola-bola yang berterbangan karena riuh ramai di arena itu.
Namun yang Jingga dengar hanyalah samar-samar dan ketenangan. Ini adalah langkahnya, agar dia bisa kembali tertawa dan berjalan beriringan bersama dengan apa yang dia takutkan. Meski mungkin ketika nanti dia kembali menjadi Jingga yang Normal, dia tidak dapat menikmati kegiatan renang ini. 
Tak mengapa, karena dia memiliki banyak ketakutan yang masih mengantri untuk dia temui.
Jingga tak pernah bisa sama setiap harinya, Jingga selalu bermutasi menjadi dirinya yang lain, menaklukan satu persatu mimpi buruk yang membuatnya berteriak setiap malam. 
Hal yang lucu adalah dia pernah diguyur air karena berteriak sambil menangis ketika tertidur. Dan ketika dia terkejut dan bangun, tubuhnya sudah lengket dan basah kuyup. Aneh memang, tapi itu adalah hal lucu yang tak pernah ingin dia lupakan. Bangun dalam kondisi menggigil.
**Binatang Jalang**






You might also like

Personal Branding

Warunk Upnormal

Buku Untuk Indonesia

History of wall clock

Good Habbit

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih