Kisah Malam yang Singkat

Bagi beberapa orang, mungkin nyanyian ditengah malam bukan perkara sepele. Tapi, bagiku nyanyian ditengah malam adalah pertanda. Kehidupan malam selalu diselimuti oleh misteri yang sering membuatku takjub. Nyanyian angin melalui melodi yang tak bertangga nada, darimana aku bisa mendengar melodi itu? Itu mudah, gemerisik dedaunan yang bergesekan, tangkai pohon yang bergoyang riang, angin yang menggoda seng-seng atap rumah. Atau sekedar menyapa malam dengan mengetuk jendela yang lupa terkunci. Itu semua nyanyian malam yang begitu aku rindukan kala senja telah tiba.
“Nung, kapan kamu balik?” terdengar suara berat dari luar jendela. Aku benci dengan orang-orang yang begitu mudahnya merusak suasana yang tengah hening dan nyaman. Aku mengintip dari celah jendelaku yang menghadap keluar. Ada dua orang laki-laki yang tengah mendorong sepeda motornya. Betapa zaman modern sudah membuat banyak orang menjadi bodoh. Bagaimana mungkin sepeda motor yang masih menyala itu harus didorong? Bukannya dinaiki sehingga dia bisa membonceng temannya itu.
“Aku balik kalau dik Sri sudah cuti, Mas.” suara cowok yang mengenakan kemeja sambil mendorong motornya itu terdengar khas wong jowo. Sambil terus berjalan lambat mereka berdua beriringan, hal yang membuatku senang adalah hening dan sepi kembali tercipta. Dalam hatiku, aku berharap mereka tidak lagi mengganggu sunyi ini.
“Ndak usah dilirik Mas.” lagi-lagi aku mendengar suara cowok berkemeja yangmedok itu. Aku benci dengan orang-orang ini, tapi aku sendiri masih belum beranjak dari jendelaku. Mengintip dengan syahdu kedua orang itu. Sesekali cowok yang berjalan disisi cowok kemeja melirik kearah jendelaku. Aku ingin sekali melambaikan tanganku, tapi aku malu. Sudah lupa aku bagaimana caranya menyapa. Aku memang teramat pemalu, dari kecil aku sudah terbiasa bersembunyi dibalik punggung ibu setiap kali bertemu orang baru.
“Itu rumput ilalangnya tinggi, Nung. Masa iya ndak dipotongin. Kan sayang.” Cowok yang mengenakan kemeja garis-garis itu menoleh sedikit kearah rumahku. Aku makin melipir bersembunyi dibalik dinding. Tubuhku menempel, tapi mataku berusaha membuntuti kedua orang itu. aku begitu ingin menyapa dan berkenalan dengan mereka. Entah kenapa, aku ingin menyampaikan secara langsung, kalau aku tidak suka keheningan malamku diganggu. Tapi, sudahlah toh sebentar lagi mereka akan hilang dibalik tikungan.
Angin kembali memainkan daun jendelaku. Aku terkesima melihat indahnya tarian angin malam. Sesekali aku ikut berdansa dengan mereka. Tapi, yang tidak aku suka, mereka selalu bergerombol dan kemudian pergi menghilang entah kemana. Sementara aku makin uring-uringan saja menanti angin berikutnya datang. Beberapa kali angin menyibak dan memainkan kalender dikamarku. Tanggal lima desember dua ribu, bisikku lirih. Sebenarnya aku sudah sering membaca dan mengamati kalender tua itu. Namun, aku tidak mengerti kenapa aku begitu malas menggantinya. Karena bahkan aku lupa hari ini, tepatnya malam ini tanggal berapa. Aku lupa mengingat semuanya semenjak Papah dan Mamah pergi.
Gubrak!
Suara dari luar jendela kembali mengusikku. Aku merasa ingin menangis saja, terlebih ketenanganku benar-benar terganggu. Suara pijakan mereka saja sudah membuatku resah, terlebih suara tadi yang begitu kencangnya membuatku benar-benar ingin menangis karena kesal. “Nung, piye tho kowe?” suara cowok yang mengenakan kaca mata berdiri membantu cowok yang mengenakan kemeja. Setelah berdiri tegak, Nung, nama cowok yang mengenakan kemeja tadi karena aku mendengar temannya memanggilnya begitu. Bangun dan kembali menuntun motornya. Cowok kacamata membuntutinya dari belakang sambil mendorong motor. “Santai Mas, ojo kesusu.” Suara medok Nung yang terengah-engah membuat cowok berkacamata itu memperlambat langkahnya. Aku mengamati dalam diam.
Tidak lama motor yang mereka dorong tiba-tiba berhenti mendadak. Nung dan cowok kacamata hampir saja terjatuh. “Loh, opo maning Nung?” dari suaranya saja aku bisa menebak cowok berkacamata itu panik. Suaranya bergetar, tapi sayang sekali, kalau aku berada dibelakang Nung itu, aku pasti membantunya. Sedari tadi aku perhatikan, cowok berkacamata hanya membantu mendorong saja. Akhirnya sambil menggaruk kepalanya, Nung berhenti tepat didepan pintu gerbang rumahku persis. Dia kemudian berjongkok dan terlihat mengutak-atik motornya. Hanya berbekal lentera dari halaman rumahku, Nung berusaha mencari posisi yang baik untuk melihat kondisi motornya.
Aku berjalan perlahan menuruni tangga, mengintip dari celah kaca jendela yang berada disamping tangga. Kemudian berjinjit menuju dapur, mencari gelas untuk kuisi dengan air. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa tidak tega melihat Nung dan temannya itu yang kelelahan duduk pasrah didepan pagar. Sepertinya sudah sejam atau dua jam, entah aku tidak tahu karena jam dirumahku ini sudah lama tidak aku ganti. Itu dia, karena aku mengidap penyakit pikun mungkin. Sehingga aku tidak pernah bisa mengetahui atau mengingat hari apa atau jam berapa.Mamah taro dimana sih gelasnya. Ini juga, botol galon udah tinggal sedikit airnya,keluhku dalam hati sambil terus mencari. Beberapa kali gelas beradu hingga menimbulkan suara berdenting pelan. Karena tidak tahu lagi harus bagaimana, akhirnya aku justru mengangkat galon yang airnya tinggal sedikit. Berjalan pelan menuju pintu depan, aku berharap semoga kebaikanku ini tidak disalah artikan.
Bagaimana mereka tidak akan salah arti? Sementara aku menyediakan minum untuk tamu beserta dengan galonnya, parah bukan? Tapi, ketika tanganku menyentuh gagang pintu, aku tiba-tiba mendadak merasa sesak. Entah kenapa, tapi aku tidak sanggup membuka pintu. Ada sesuatu yang membuatku merasa takut untuk keluar, akhirnya aku putuskan untuk berdiri sejenak sambil kembali mengintip dari jendela ruang tamu. “Nung, sudah jam delapan. Motormu piye?” Nung yang tengah mencoba mengutak-atik motornya hanya mendesah kecil. Tidak tahu harus berkata apa. “Aku nggak tau Mas, tiba-tiba ndak bisa didorong.” Nung tiba-tiba menoleh kebelakang, matanya melihat kearah jendela, seketika aku kembali bersembunyi secepat mungkin dari balik jendela. Jantungku rasanya berdebar kencang sekali, aku memang lupa kapan terakhir berbincang dengan orang lain. Karena aku hanya ingat terakhir kali aku berbincang dengan angin dan malam yang kelam.
“Nung, ada apa?” perlahan aku memastikan kalau Nung sudah tidak lagi melihat kearah jendela tempat aku berada. Yes, akhirnya. Teriakku dalam hati, aku sendiri bingung kenapa aku malah bersembunyi. Padahal aku ingin sekali berkenalan dengan mereka. Terlebih wajah Nung tadi, terlihat manis sekali. Mengingatkanku bahwa aku sudah lama, terlupa pada rasa jatuh cinta. Entah kenapa rasanya jantungku mendadak kembali berdebar-debar kencang. “Mas, aku sering denger dari teman kosanku. Katanya disini, sering terdengar suara piano mengalun. Katanya merdu banget. Aku penasaran.” Cowok kacamata yang duduk disebelah Nung mengibaskan tangannya. “Ndak usah dipercaya, ndak mungkin tho?” Nung mengangguk ragu, aku kembali bersembunyi ketika Nung kembali menoleh kearah jendela. Aku jadi semakin berdebar. Ah, Nung kenapa kamu membuatku salah tingkah seperti ini?
Galon ditanganku kucekal dengan erat. Takut terjatuh, angin kembali menggodaku, memainkan rambutku yang panjang. Aku tersenyum geli, melihat mereka tertawa riang melihatku yang tengah bersembunyi dari lirikan Nung. Kalian ini, jangan usil, teriakku dalam hati. Walaupun aku dan angin sering bercengkrama melalui bahasa kalbu. Entah kenapa kami justru tidak pernah salah paham. Seingatku aku memang tidak bisa berbicara, sejak pertama kali aku terbangun dari tidur dan tersadar kala malam pekat sudah merayap dan memelukku. Aku tidak dapat mengingat banyak hal, rumah sepi sekali. Dan saat itu, aku merasa sangat sedih, kepergian Mamah dan Papah tanpa pamit padaku. Membuat malamku sering aku habiskan dengan tangisan.
Tiba-tiba aku merasa ingin menangis lagi. Dan airmataku sudah mulai mengalir dipipiku. Kenangan tentang Mamah dan Papah yang masih aku ingat membuatku kembali terisak, bahkan dadaku naik turun karena menahan agar tangisku tidak membludak. “Nung kowe denger orang nangis ora?” aku menahan tangisku, berusaha tidak terdengar Nung dan temannya. Tapi, lambat laun aku tersadar, aku begitu merindukan seorang teman. Terlebih memang selama yang aku ingat, hanya Mamah atau Papah yang sering menemaniku menghabiskan hari-hariku diatas kasur. Dan ketika mereka pergi, justru saat aku bisa bangun dari tempat tidurku.
Mungkin mereka meninggalkanku karena ingin aku menjadi anak yang mandiri. Tapi, aku sendiri tidak tahu kemana mereka pergi. Rumahku ini terbilan cukup luas sekali dan besar serta megah. Tapi, gelap dan sunyi. Karena aku terbiasa dengan kesunyian, akhirnya aku justru merasa jengah ketika ada keramaian sedikit saja. “Aku ndak denger apa-apa Mas.” Dadaku terasa sesak sekali, aku ingin menjerit rasanya. Karena aku sendiri benci dengan rasa sepi yang setiap hari harus aku temui. Bahkan aku benci dengan kenyataan bahwa aku tidak lagi diinginkan oleh Papah dan Mamah. Aku benci pada diriku sendiri. Dan aku tak lagi menahan isak tangisku.
“Iya, Mas. Kedengeran, dari dalam rumah.” Suara Nung membuat isak tangisku justru semakin kencang. Aku memberanikan diriku membuka pintu, galon yang semula aku cekal erat akhirnya terjatuh. Membuat Nung dan temannya itu bangun dari tempat duduk, kemudian tergesa mendorong motor mereka yang tampak lebih berat dari sebelumnya. Aku kembali menangis sejadi-jadinya, bagaimana aku tidak sedih. Air digalon yang tinggal sedikit, untuk Nung dan temannya itu, tumpah dan berserakan diatas lantai. Aku merasa tidak berguna. Saat aku mengitip dari celah pintu yang sudah hampir terbuka lebar, Nung dan temannya hampir menjauh dan hilang dibalik gang. Aku tidak ingin menghabiskan kesempatan ini. Aku tidak ingin lagi kesepian.
“Nung.” aku mencoba berteriak, namun tenggorokanku terasa kering. Leherku seperti tercekik, aku kembali mencoba menggerakkan bibirku memanggil Nung. Tapi, tetap saja, tidak membuat Nung dan temannya menahan langkah mereka yang seakan berlari. “Nung!!” Dan tepat pada saat langkah kakiku mendekat dipagar, aku bisa berteriak memanggilnya. Sepertinya, karena aku sendiri tidak dapat mendengar suaraku. Tapi Nung dan temannya itu menoleh kearahku, aku melempar senyuman indahku kearah mereka. “Setann!!!” cowok berkacamata itu lari tunggang langgang meninggalkan Nung. “Kunti….” Nung pun tidak mau kalah, sambil mendorong motornya dia berlari cepat sekali. Angin menyibak kembali rambutku, sepi sudah datang lagi.
**Binatang Jalang**













You might also like

Personal Branding

Warunk Upnormal

Buku Untuk Indonesia

History of wall clock

Good Habbit

Comments




domain murah