Behind of my real life

Aku pernah terluka, bekasnya masih kusimpan dengan rapi, tak mungkin hilang karena memang tertanam selamanya, terkadang rasa nyeri masih datang dan pergi. Tak tahu waktu, jam atau menit serta detik. Tak mengenal apapun, baik Pagi - Siang - Sore dan Malam.
Memamah luka tak cukup satu atau dua waktu, butuh selamanya. Meski luka itu tertoreh hanya sejam atau dua jam. Tapi membekas hingga selamanya. 
Pernahkah kau bayangkan jika luka itu menjadikan mimpi buruk yang membuatmu terbangun kemudian menangis merintih, menyalahkan diri kemudian tertegun.
Atau luka itu membuatmu menjadi tampak seperti orang gila yang tak mengenal dimana dia berada. Seperti alien yang tersesat.
Itu luka, yang sifatnya abadi. Hingga sang penyandang luka pergi dari dunia.
Luka dan Maaf seperti ikatan yang tak terbantahkan. Itu kenyataan, tapi memaafkan tidak semudah membalik lembar dalam buku kehidupan. Memaafkan mengikutsertakan penerimaan, dan ini bagian tersulit yang melebihi rasa sakit karena patah hati atau apapun.
Lama kupendam, selama bertahun-tahun. Tak ada yang mengetahui, hingga akhirnya keresahan datang melanda beberapa waktu belakangan ini. Selayaknya orang yang tengah ditagih hutang ketika sudah jatuh tempo. Tak lagi bisa membedakan mana kanan dan kiri.
Bahkan selalu berharap waktu dapat terhenti agar dapat berpikir harus seperti apa. Hingga mungkin ini menjadi BOM WAKTU yang kemudian meledak pada waktu yang tak tepat atau kurang tepat. Entahlah siapa pula yang dapat mengatur waktu?
Karena manusia hanya bertugas menjalankan waktu dengan baik. Tak dapat mengaturnya menjadi sesuatu yang diinginkan.
Kemudian apa yang dapat aku lakukan setelah memendamnya begitu lama? Kemudian pecah dan berurai ketika membaca sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu? Ini semua tidak ada yang salah, tanpa perlu mencari kesalahan.
Karena ini adalah waktunya, untukku melepaskan ikatan yang tak sadar sudah sekian lama ini mengekang. Tak ada yang tahu karena kusimpan sendiri saja. Hingga aku beruntung dapat melanjutkan hidup.
Dan ketika dengan canggungnya menceritakan bagian tersuram dan kelam ini pada seseorang, aku tahu dan sadar. 
Bagian tergelap pada saat malam bukan ketika gelapnya menyapa, tapi ketika kelamnya hendak pergi.
Begitu pula dengan kesuraman pada masa yang telah lalu. Apa memang yang telah aku rasakan hingga membuatku seperti itu? Masa dimana aku tak dapat mengendalikan diriku hingga tak menerima apa yang ada padaku. Itu adalah suram menurutku.
Diriku tak kukenal, itu bagian paling menyeramkan. Sehingga ketika semua ini pecah menjadi puing-puing puzzle yang siap untuk kembali diterima meski bentuknya tak lagi sedap dipandang mata. Saat itulah aku melangkah dan berlari.
Terima diri kita apa adanya.
Thanks to you, yang bersedia mendengarkan dan menerima. Yang bersedia memahami dan memberi semangat.
*Binatang Jalang*














You might also like

Personal Branding

Warunk Upnormal

Buku Untuk Indonesia

History of wall clock

Good Habbit

Comments

Instagram




domain murah