Cintaku bertemu di Setu - #NulisKilat

“Nduk, jangan lupa kamu jaga sawah. Kasihan Bapak, sudah kecapekan dari siang tadi.” Ibu menyerahkan senter kecil, tas berisi makanan serta jaket tebal yang masih layak untuk aku kenakan.
Bapak seorang petani yang pekerja keras, tidak pernah mengeluh sekalipun. Meski tempat kami di Kampung Setu, Bekasi ini banyak di bangun perumahan yang mungkin akan menggusur sawah milik Pak Haji Naiman, tapi Bapak tidak pernah bermalas-malasan. Tidak seperti tetanggaku, mereka bahkan ketika mendengar gosip tentang itu lantas enggan untuk datang kembali ke sawah.
“Bu, Dita berangkat ya.” Aku mencium tangan Ibuku yang sudah mengeriput. Senyuman tidak pernah luntur dari wajahnya, mungkin itu yang membuat Bapak jatuh cinta pada Ibu.
Langkahku kecil, ditemani suara jangkrik yang menyanyi. Tadi sore, Mirna dan teman-temanku mengajak untuk menikmati perayaan tahun baru di perumahan elit Grand Wisata. Tapi aku menolak dan memilih menikmati malam seperti sebelumnya, dengan keheningan dan orkestra alam yang begitu menenangkan.
Beberapa kali aku berpapasan dengan pasangan muda dan mudi yang berboncengan motor, mereka pasti ingin menghabiskan malam bersama dan berkumpul dengan teman yang lain. Entah kenapa setiap malam tahun baru aku lebih memilih untuk menikmati dari jauh. Menjadi penonton sambil merenungi apa yang akan kulakukan setelahnya. Lagipula aku memang mencintai sepi dan sunyi, jadi tidak ada perbedaan bagiku.
“Dit, mau ikut nggak? Di sana rame ada pasar malam sama kembang api!” suara Risa samar terdengar tertutup deru motornya.
“Nggak, Ris.” Aku berusaha berteriak menyaingi suara knalpot motor yang diubah menjadi sangat nyaring dan cempreng.
Memang sangat heran kenapa justru mereka merusak sepi kala malam menyapa dengan hingar bingar knalpot yang tidak ada merdunya itu. bahkan aku sering terganggu dengan suara itu yang sering membangunkanku setiap malam ketika aku menjelang pulas tertidur. Aku memang makhluk malam, yang sangat mencintai ketika malam menyapa meski udara dingin atau hujan turun. Tidak membuatku berhenti untuk mencintai kelamnya sang malam. Begitu misterius, namun setia.
Desa Setu, terletak di pinggiran kota Bekasi. Masih banyak sawah yang menguning atau menghijau, meski beberapa kali kerap diterpa banjir kala hujan deras menyapa. Kalau sudah begini, kasihan Bapak yang hanya bisa duduk lemas karena gagal panen. Namun, hujan bulan ini tampaknya masih terbilang ramah, karena tidak banjir. Mungkin juga karena pembangunan aliran air yang sudah diperbaiki oleh seorang mahasiswa yang kemarin sempat digembar-gemborkan.
Aku memang tidak begitu tertarik, bagiku mencintai malam mengajariku untuk setia. Meski banyak yang mencemooh aku terlalu berharap pada hal yang semu, berharap pada ketidakpastian. Sayang sekali, sementara Malam adalah sesuatu yang pasti akan dirasakan sesuai urutannya. Pagi, Siang, Sore dan Malam datang. Hanya jika jiwa kita masih diperkenankan untuk hidup. Tapi selebihnya Malam tidak pernah ingkar janji atau bahkan terlambat. Hanya terkadang isu tentang adanya global warming – lah yang membuat Malam datang tak tepat waktu.
Aku menendang kerikil pelan, jalan kecil menuju sawah memang sedikit berbatu. Belum lagi minim pencahayaan, karena masih dihiasi pohon nangka, pohon mangga dan pepohonan lain yang ketika malam hanya menampakkan siluet. Seperti malam, pekatnya sering menjadikan benda-benda lain yang mengisi keriuhan alam ini menjadi misterius juga. Seperti dahan pohon singkong yang melambai bak tangan manusia.
Dari jauh terdengar suara dentuman pesta kembang api akan dimulai, entah berapa jam atau menit lagi. Seingatku aku melangkah keluar pukul sembilan malam. Menggantikan Pak’de Kono untuk menunggu sawah dari hewan-hewan liar yang akan membuat padi gagal panen. Belum lagi tikus-tikus sawah yang sering nakal, kalau siang burung-burung yang kelaparan juga menjadi bencana. Belum lagi hama wereng atau belalang pernah juga mewabah.
Semenjak Bapak memutuskan untuk pindah ke Setu, Bekasi tahun 1999, saat dimana paceklik melanda dari beragam bidang. Hingga Bapak memutuskan untuk pindah karena tawaran dari Pak Sumono tetangga kami di kampung. Pertama kali aku menginjakkan kaki di Setu, aku merasa tidak berbeda dengan kampung kami di Batang, Jawa Tengah. Orang-orang yang beragam, juga masih banyak yang bekerja sebagai petani meski beberapa kali sempat ada yang mengatakan kalau tanah milik Haji Naiman ini akan di jual. Tapi dulu berita itu hanya seperti kabar burung. karena hingga kini Haji Naiman belum kunjung menjual sawahnya. Tapi berita beberapa hari lalu, tampaknya memang benar.
Gubuk yang sering dijadikan tempat istirahat para pekerja berdiri kokoh, atapnya yang terbuat dari jerami menjuntai bak hiasan mahal. Aku duduk sambil merapikan perlengkapan bawaanku. Dari tengah pematangan sawah, kilauan motor yang melewati jalan setapak tadi yang aku lewati terlihat seperti lampu dari cahaya lilin. Gerimis rintik-rintik mengiringi akhir hari di tahun 2013.
“Kamu memang ndak ada niatan untuk melanjutkan kuliah?” siang tadi Ibu sambil menjahit sprei yang bolong bertanya padaku.
Sebenarnya aku sudah sangat bersyukur bisa mengenyam pendidikan hingga Diploma, namun memang pertanyaan ibu itu membuatku mengingat kembali impianku. Tapi apa daya, aku saja belum mendapat pekerjaan setelah dua bulan menganggur di rumah. Tidak tega rasanya membebani Bapak dan Ibu. Belum lagi, pekerjaan Ibu yang hanya seorang tukang jahit, terkadang berdagang gorengan bakwan keliling. Aku menepis bayangan tentang impianku, mungkin belum saatnya.
Dari jauh gemuruh ledakan kembang api terdengar menggema, senyumku menghiasi wajah. Ada getaran yang begitu menghentak meneriaki relung kalbuku,biarkan aku menikmati sepi. Meski sebenarnya aku bukan seorang yang mellow atau juga mendramatisir keadaan. Tapi bagiku ditengah kesendirian ini, aku bisa merangkai mimpi dan impianku sepuasnya.
Gemerisik semak mengejutkanku, aku menggoyangkan tali yang sudah dipasang untuk mengejutkan binatang yang mengganggu. Brak. Aku lebih terkejut saat mendengar suara keras seperti benda terjatuh di sebrang sawah. Ada sekilas bayang hitam bergerak perlahan. Aku tidak tahu binatang apa yang gerak-geriknya mencurigakan itu. aku menyorotkan senterku kearah bayangan hitam itu.
“Astaga!” aku terpekik, ketika mengetahui ada seseorang yang terjatuh di sana. Pikiranku meracau dalam perjalanan untuk menolong orang yang jatuh tadi. Meski hatiku ragu karena takut dia adalah orang jahat.
“Pak, nggak apa-apa?” aku mendekat dengan perlahan, senterku aku jepit diantara leher dan bahuku. Membantu orang tadi.
“Nggak apa-apa. Saya tadi kaget denger lonceng tadi.” Aku tertawa pelan, bersyukur malam tidak menampakkan tawaku yang menyeringai.
“Bapak mau kemana?”
“Nggak kemana-mana, saya Cuma mau duduk di sana.” Orang itu menunjuk gubuk tempatku tadi.
“Ada apa Bapak mau kesana?” aku mendahuluinya, melangkah lebar-lebar sambil mempersiapkan jika ada sesuatu yang mengancam.
“Saya Cuma mau menikmati malam pergantian tahun saja.” Katanya tenang.
Aku tidak tahu kenapa, jantungku berdebar kencang. Entah mungkin karena aku takut ada orang asing yang kini duduk dalam kesunyian malam namun samar terdengar hingar bingar pesta fora pergantian tahun. Kami berbagi sunyi dan sepi, tidak ada kata-kata yang dapat mengganti senyap. Tapi aku menikmatinya saja, karena tidak mengganggu perenunganku. Namun, kepalaku meracau kesegala arah. Merasa kehilangan fokus aku mendesah berkali-kali, berat dan panjang.
“Lagi galau ya?” aku menoleh cepat, meski hanya secarik siluet yang nampak dari penggambaran wajahnya. Tapi aku tahu, tampaknya dia orang baik.
“Nggak, galau kenapa?” jawabku singkat.
“Anak zaman sekarangkan hobinya galau. Gak bisa jalan-jalan galau, gak bisa beli baju galau, gak bisa mejeng galau. Semua dikaitkan dengan kegalauan.”
“Beruntung saya nggak tertarik dengan galau, Pak.”
Dia tertawa kecil, “Panggil saja, Andra. Saya belum Bapak-Bapak. Masih kuliah sedang ambil studi S2.” Jantungku seketika berdegup, berarti ini mahasiswa yang kemarin menjadi perbincangan itu.
“Oh, maaf.”
Kemudian kembali hening, aku menikmati paduan suara antara kodok dengan jangkrik, entah kenapa mereka bisa kompak dalam mendendangkan harmoni malam yang senada. Seperti tengah dipadu oleh seorang musisi papan atas seperti Purwacharaka. Tapi ini adalah keindahan yang tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan pesta yang hingar bingar.
Bayangkan saja, ledakan kembang api sudah bersahut-sahutan. Seakan tidak mau kalah, setiap penjuru arah mata angin ledakan itu bersahut-sahutan. Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan sia-sia. Desas-desus yang pernah aku dengar, katanya mereka menyiapkan dana hingga puluhan juta untuk mempersiapkan pesta yang hanya akan dinikmati semalam saja.
“Ngabis-ngabisin uang saja.” Suara Andra terdengar berbisik.
Aku tertawa sekilas, menertawakan ternyata isi kepala kami hampir sama. Mengomentari setiap warna-warni yang memang terlihat sangat indah di langit. Berpikir tentang banyaknya jutaan rupiah yang terbuang dengan percuma.Mending buat aku kuliah daripada untuk kembang api, batinku.
“Serius, saya sedang tidak bercanda. Tapi memang untuk apa mereka menyiapkan pesta yang seharusnya bisa digunakan untuk kesuksesan atau pengembangan usaha menengah kebawah?” aku terdiam, segera tersadar, mungkin tawa kecilku yang tadi terdengar olehnya membuatnya tersinggung.
“Maaf, tapi saya nggak menertawakan Mas Andra, saya lagi menertawakan diri saya dan juga isi kepala kita yang ternyata sama. Mengomentari pesta pora pergantian tahun.”
“Ah, iya. Saya pikir kamu tengah berpikir saya terlalu serius berpikir.”
Kami tertawa bersama, membiarkan hingar bingar menjadi instrumen yang membawa kami pada malam yang semakin larut. Mungkin pergantian tahun segera datang, tapi aku tidak begitu memikirkannya. Sama seperti niatku dari awal, hanya saja, kilatan cahaya kembang api membuatku bisa melihat wajah Mas Andra. Senyum mengukir wajahnya setiap kami berbincang santai, hidungnya mancung dan wajahnya sangat manis.
“Kamu tahu, berapa banyak polusi dari ledakan kembang api ini. Tidak terbayang mengapa mereka masih melakukan pesta yang sama setiap tahunnya.”
Aku suka caranya berpendapat, tidak menghakimi hanya merenungi sesuatu jika dihabiskan dengan jalan yang baik. Bukankah terlihat sangat berbeda dengan cowok-cowok temanku yang hanya berpikir tentang motor, mall atau hal-hal yang menghabiskan uang tanpa berpikir bagaimana mendapatkannya.
“Saya bahkan harus banting tulang demi membiayai kuliah saya. Sementara banyak sekali di sana mahasiswa dan mahasiswi yang seharusnya menghadapi UAS tapi mereka memilih untuk berpesta semalam. Tidak berpikir tentang pendidikan mereka.”
Aku teringat dengan Resa yang sore tadi mengatakan bahwa dia tidak memikirkan UAS untuk malam ini. karena dia ingin menghabiskan pesta pergantian tahun bersama kekasihnya. Entahlah mereka pergi kemana, aku sendiri tidak ingin ikut campur. Terkadang aku merasa sedih mendengar teman-temanku yang beruntung bisa kuliah namun tidak memanfaatkan dengan baik.
“Saya saja masih bermimpi untuk bisa lanjut kuliah.” Bisikku pelan, sebenarnya itu hanya impian yang ingin aku gantungkan bersama bintang-bintang di langit. Tapi ternyata, Mas Andra mendengarnya.
“Bagus, capailah impian itu, ingat harapan harus sejalan dengan kerja keras. Karena impian itu bagaikan bara api yang akan membuat kita bersemangat untuk meraihnya.” Tubuhku seketika merasa hangat, bukan karena jaket tebal yang aku kenakan, tapi karena semangat yang baru saja membuatku merasa tidak perlu takut lagi untuk bermimpi.
“Jangan pernah takut bermimpi, saya suka dengan kalimat salah seorang dosen saya sewaktu kuliah Diploma dulu.” Bayanganku pada sosok Pak Dura kembali berkelebat. Sosok yang membuatku bersemangat sehingga nilaiku tidak pernah ada yang jelek. Minimal A atau A plus pasti aku dapat.
“Impian itu milik semua orang, jangan pernah takut. Asal berlarilah untuk menjadikannya kenyataan.” Aku bisa merasakan Mas Andra tersenyum padaku, melalui siluet bayang yang terlihat dari balik sinar gemerlap langit yang ramai.
Aku tidak pernah mengerti apa itu cinta atau idola. Bagiku hidup ini sudah begitu banyak porsi hidupku untuk mencapai impian. Tapi malam ini, ada sesuatu yang baru, mungkin semangat serta debaran yang lembut dan menenangkan ini salah satunya. Mungkin jika bintang-bintang itu bisa melihat, di gubuk pematangan sawah, ada dua orang insan yang tengah merajut mimpi dalam diam.
“Kok saya merasa nyaman ya di sini. Setiap malam saya ke sini nggak pernah merasa seperti ini.” aku merasa pipiku menghangat, beruntung rona merah tidak tampak langsung. Sehingga masih bisa kusembunyikan.
“Dita, besok pagi mau nggak sepeda bareng saya? Kita ke Danau buatan di belakang perumahan Grand Wisata.” Bolehkah aku berteriak malam ini? karena sungguh aku bahkan tidak tahu ingin berkata apa lagi. Bahkan untuk mengangguk saja tampaknya tidak cukup.
“Hmm.. I.Iya.. Mas.” Susah payah aku menjawabnya. Mas Andra tertawa kembali sambil mengusap kepalaku dengan lembut. Desir darahku mengalir lembut. Jantungku tengah ikut berpesta.
Dentuman semakin keras dari berbagai sisi, warna-warni yang terpantul dari bias kilatan kembang api, terdengar riuh suara terompet menyambut sesuatu. Mungkin sudah tepat jam dua belas malam, tepat pergantian hari dan pergantian tahun yang baru. Aku tersenyum menikmati indahnya langit, meski aku juga ikut berpikir apa yang terjadi dengan alam yang tengah dicemari dengan polusi ini.
“Dita, selamat tahun baru.” Bisik Mas Andra sambil menggenggam tanganku hangat.
Bolehkah aku berteriak sekarang? Sungguh aku ingin sekali berteriak bergembira agar tersamar oleh suara hingar bingar.
“Selamat tahun baru, Dita!” aku tersentak kaget karena Mas Andra berteriak dengan semangat, seakan menyeru pada langit malam yang ceria.
“Selamat tahun baru, Mas Andra.” Tidak mau kalah, akhirnya keinginanku bisa terwakili. Degup jantungku berirama, aku merasa berbeda dan tak lagi perlu khawatir dengan malam yang pasti akan datang lagi esok hari. Tapi pasti ada sesuatu yang berbeda di sana. Ada Mas Andra yang mungkin akan menemaniku.
Sambil berbagi makanan bekal dari Ibu, kami menikmati sisa malam pergantian tahun dengan mendengarkannya bercerita tentang perjuangannya, tentang dia dan mimpinya juga tentang aku serta mimpiku dan tentang kami. Sekotak singkong rebus yang sudah mulai dingin, ubi rebus tidak membuat kami merasa bosan. Mungkin fajar sudah akan tiba dan tak sabar ingin menyapa bumi pada hari yang baru. 






You might also like

Personal Branding

Warunk Upnormal

Buku Untuk Indonesia

History of wall clock

Good Habbit

Comments




domain murah